Jumat, 14 Desember 2007

ARTIKEL

MAKNA MODERNISASI

PEMBUKA

Sejarah peradaban manusia dalam perkembangan dunia, mewarnai dunia akademis dan perkembangan kemajuan sains serta teknologi yang menyertainya. Sumbangan pemikiran yang telah diberikan banyak tokoh terkenal dunia sekelas karl marx, emile durkhiem,max weber ataupun para pemikir di dunia islam seperti ibn farabi, al ghazali,dan masih banyak yang tak mungkin disebutkan satu persatu di sini memperjelas posisi peradaban dalam mempengaruhi masyarakatnya. Pertentangan kedua dua kubu kebudayaan yang berbeda dalam menyepakati nilai-nilai yang menjadi landasan gerak dan berpikir menyebabkan peradaban itu semakin jelas perbedaannya dalam perkembangan sejarah umat manusia.
Perkembangan peradaban dunia yang semakin dasyat dalam perkembangan dunia modern sekarang ini tak bisa dilepas dari peran sejarah masa lampau yang telah berada dalam catatan perkembangan manusia. Banyak dari kalangan pemikir barat mencoba untuk mengidentifikasikan peradaban, namun dalam perkembangannya hubungan peradaban itu sendiri terasa semakin samar. Kalaupun orang sekarang bisa menyebut saat ini manusia berada dalam peradaban modern, namun orang akan semakin kebingungan untuk melihat peradaban yang muncul dalam konteks sekarang, terlebih orang akan mudah sekali untuk mengaitkan masalah modern dengan nilai-nilai moral yang akan disertai dengan budaya lokal dan keagamaan.
Semangat “renaissance” yang muncul di prancis pada perkembangannya turut serta merombak struktur nilai-nilai masyarakat dan menggantinya dengan semangat yang baru, terlebih besar harapan untuk mencapai kemakmuran hidup yang lebih mapan, sehingga semangat ini akan mudah ditangkap dengan kaku dan efeknya akan menimbulkan ketakutan pada perubahan budaya lokal pada suatu masyarakat. Pola tradisional masyarakat yang pada dasarnya bersifat kebiasaan moral sebagai unsur pembentuk budaya asli,akan terkikis apabila hal ini dibenturkan dengan pola modernisasi yang sifatnya destruktif pada penggunaan alat sebagi media untuk mencapai ambisi.
Budaya lokal yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat, cenderung lebih bersifat tertutup ketika berhadapan dengan sesuatu yang menuntut perubahan perilaku manusia. Kreasi dan nilai-nilai baru kerap kali dianggap sebagai sebuah ancaman dalam tatanan nilai kemasyarakatan yang ada, sehingga pertentangan masyarakat dalam menentukan nilai moral sangat berpengaruh dalam menciptakan peradabannya. Kekuatan sosial dan personal masyarakat justru menjadi sesuatu yang dominan dalam masyarakatnya untuk mengembangkan peradabannya sendiri.
Masyarakat modern di cirikan pada pola pikir untuk perubahan bagi perkembangan kehidupan dengan bersahabat dengan teknologi untuk mempermudah manusia mewujudkan keinginannya sebagai manifestasi perkembangan peradaban manusia. Proses pergantian tenaga manusia seringkali terlihat pada proses modernisasi sehingga orang akan mudah menyebut proses modernisasi dengan dehumanisasi. Namun hal itu seharusnya akan diberbarengi dengan muatan nilai moral yang bersandar pada ideologi agama, sehingga dehumanisasi akan diminimalisir serta tidak ada ketergantungan manusia dengan teknologi. Ketakutan untuk perubahan bagi perbaikan justru akan mengabaikan nilai kemanusianan( Human value ) itu sendiri, hingga pemaknaan perubahan yang seharusnya bersifat progressif menjadi kaku ketika bersentuhan dengan realitas sosial. Harapan perubahan perilaku dan pola pikir pada abad modern ini, menjadikan kehidupan manusia modern merasa Kekeringan spiritual dan kehampaan akan sebuah pengharapan yang tak pernah berujung. Hingga pada akhirnya akan manusia modern akan kembali menyandarkan hidupnya pada nilai humanitas dan nilai-nilai Illahiyah sebagai basis moral dalam kehidupan.

IDENTITAS DALAM DUNIA MODERN

Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, identitas masing-masing individu semakin kelihatan absurditasnya, antara sesama manusia yang hidup dalam satu lingkungan sudah tidak saling mengenal. Ironisnya Sistem yang berlaku dalam kehidupan modern menjadikan seorang manusia tak mempunyai batas sebagi penjelas identitas asli dari seseorang dalam lingkungan sosialnya. Hal yang muncul pada setiap individu akan berbicara tentang hak dan kewajibannya, terlebih kekuatan modal akan jadi penentu sehingga seseorang cenderung eksploitatif terhadap orang lain. Peranan seseorang dalam kehidupan semacam ini tak lebih hanya sebagi buruh dan pengusaha, tuan dan bawahan, konsumen dan produsen atau yang memerintah dengan yang diperintah. Sistem demokrasi turut melanggengkan tata pergaulan masyarakat feodal versi modern. Sistem perwakilan pada sebuah lembaga pemerintahan juga diartikan untuk menguasasi hidup orang lain, terlebih kecenderungan untuk memenuhi ego dan kepentingan personal ataupun kelompok menjadi ciri dari sistem demokrasi semacam ini. Parahnya ketika Orang yang diberi amanah untuk mewakili masyarakat malah justru menganggap kepentingan pribadinya adalah kepentingan masyarakat pula.
Kehidupan agraris yang merupakan unsur asli orang Indonesia terkebiri tergantikan oleh pola kehidupan dengan pergaulan yang baru, mengacu pada pola dan sistem yang digunakan di Negara negara barat. Indonesia saat ini masih dianggap sebagai Dunia ketiga dan masuk katagori Negara-negara berkembang, dan kecenderungan Negara dunia ketiga adalah meniru gaya yang dicontohkan oleh Negara Negara yang sudah maju pada bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan informasinya. Dalam hal ini tentulah ada yang jadi Negara produsen dan ada yang jadi negara konsumen,atau ada yang mengeksploitasi dan ada yang dieksploitasi.
Dalam dunia modern juga terjadi pengglobalan kharakter dalam satu wajah yang mencirikan satu dari semua batas, ciri cirinya adalah ada suatu paham yang menyatukan semua kharakter manusia seperti, HAM (Hak Asasi Manusia) yang dijadikan identitas semua orang yang hidup di muka bumi ini. Akhirnya dalam kehidupan seorang manusia akan muncul egoisme yang dipaksakan untuk orang lain, solidaritas masyarakatpun semakin hilang, nilai kemanusiaan kemudian dapat diukur dengan materi(uang), hingga dalam pergaulan sosial kemasyarakatan akan terjadi penghambaan terhadap budaya materialis yang didukung oleh teknologi untuk menguasai hajat hidup orang banyak.
Peranan teknologi informasi menjadi dominan dalam semua aspek modernisasi. Hal ini berperan dalam membentuk kharakter beserta kebudayaan manusia yang hidup dalam dunia modern. Seseorang yang hidup dalam dunia modern akan kehilangan jati diri, dan akan cenderung menjadi peniru melalui alam bawah sadarnya. Budaya luar yang dipaksakan masuk melalui media masa(mass media) dan internet seakan-akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik dan selaras. Identitas manusia akan cenderung disamakan, baik yang kaya, miskin, kulit hitam atau kulit putih dan semua keragaman yang ada di bumi ini. Contoh: yang ada dalam kehidupan alam bawah sadar kita adalah “ iklan sabun melalui media masa” yang seakan akan semua orang membutuhkan kulit putih dan cantik. Namun akan berbeda dalam kehidupan yang nyata sehari hari, bahkan orang tidak mandipun tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan. Semua orang ingin bahagia dan senang dalam menjalani kehidupan, tetapi apakah benar bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan yang sama pula?.
Identitas seseorang dalam masa modern akan sulit di cari, namun kesadaran untuk selalu mengenal diri akan menjadi penentu seseorang dalam melakukan semua aktifitas hidupnya. Pada tahap inilah manuasia akan merasa terperanjat bahwa proses yang sejak kecil ia alami tak seenak yang ia mimpikan, bahwa semua kehidupan akan memerlukan pencarian terhadap proses kesadaran diri. Mimpi mimpi yang ia dapatkan dari luar dirinya tentang sebuah kehidupan yang terasa lebih enak dan menggairahkan akan mempengaruhi pola dan perilaku hidup seseorang, namun ketika buaian mimpi itu dianut oleh orang tersebut maka sesuatu paham/ajaran sudah di ikuti oleh seseorang. Baik dan buruk sebuah ajaran yang masuk dalam kharakter dan kepribadian seseorang akan ditentukan oleh orang yang akan mencari identitasnya. Ironisnya manusia saat ini tidak sadar bahwa identitasnya adalah sebagi manusia bukan manusia sebagai budak dari teknologi.

PERAN IDEOLOGI DALAM PERKEMBANGAN DUNIA MODERN

Sekarang ini manusia Indonesia semakin tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sehingga apapun yang dilakukannya hanya untuk mendukung apa yang menjadi kebutuhan pada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan yang terjadi dalam masyarakat pada kehidupan sosialnya hanya sebatas yang bisa diamati dengan panca indra manusia bukan sebuah penelitian untuk mengkritisi fenomena yang terjadi dalam kehidupan sosialnya. Pendidikan untuk meciptakan generasi masa depan hanya diarahkan pada pendidikan secara kognitif dan psikomotorik dari sekian banyak potensi seorang manusia, sehingga hasil pendidikan tersebut hanya layak dipakai dan dijual untuk memenuhi tuntutan zaman modern. Akhirnya manusia akan terjerumus dalam kehampaan eksistensinya yang utuh,karena dia bukan merupakan subyek yang eksistensial namun lebih cenderung menjadi subyek-subyek yang semu dan dikendalikan oleh alam bawah sadar(nafsu). Penyebab hal itu adalah masuknya paham-paham negatif dari ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa nilai yang ditiru tanpa filter moralitas, namun telah masuk serta dipakai oleh masyarakat dalam semua tingkatan stratifikasi sosial masyarakat Indonesia. Akhibatnya manusia indonesia tidak bisa bersikap secara dewasa terhadap hidupnya sendiri dan sekedar pemenuhan kebutuhan akan paksaan hidup yang bukan kodratnya. Hasilnya seseorang akan terombang ambing dalam bantingan gelombang nafsu keserakahan hidup dan angkara murka.
Konsepsi dasar manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah diatas muka bumi ini semakin samar untuk ditangkap oleh indra dan pikiran manusia saat ini, justru problem yang muncul semakin menutupi sifat-sifat dasar manusia itu sendiri. Kejadian demikian itu bukan hanya terjadi pada sejarah kelam umat manusia yang dulu, nemun hal itu muncul didalam kehidupan sekarang ini. Sejarah yang cukup fenomenal pernah terjadi di Jerman waktu Hitler berkuasa, Dia ingin membentuk ras manusia yang superior dan tanpa cacat (Ueber Mensche)yang akan memimpin seluruh umat manusia ini. Namun pada dasarnya ia hanya ingin menyembunyikan kerapuhan fisiknya terhadap realitas dan perjalanan sejarah umat manusia. Namun yang terjadi adalah pembantaian ras Yahudi, terlepas kebenarannya seperti apa? Hal ini adalah bukti sejarah atas kelangsungan hidup manusia dengan paham dan nilai yang absurd.
Transformasi nilai nilai dasar pembentuk kepribadian manusia yang akan turut membentuk nilai moral kemanusiaan yang akan memaknai solidaritas kemanusiaannya. Maka hal ini harus ditanamkan secara mendalam pada generasi muda disaat ini yang kehidupannya sudah hilang gambaran kesejarahan tentang moralitas yang ada pada nilai tradisi masa lalu dan berbasis pada nilai idiologi agama. Untuk membentuk kehidupan mendatang yang lebih baik dan merupakan satu-satunya jalan keluar dari problem modernisasi menurut Hitler adalah “menemukan kembali ideology pribumi(folkish ideology) ” Kalau diartikan untuk manusia Indonesia yang islam sebagai identitas kultural mayoritas penduduknya, maka panggalian makna nilai ideologi dari islam sendiri harus kita munculkan untuk menjawab tantangan perubahan zaman. Tapi yang terjadi kehidupan modern saat ini generasi muda bangsa ini berada pada kebimbangan nilai ideologi, sehingga wajar apabila trend serta kehidupan glamour menjadi idola yang sangat diminati. Kekagetan dan kegamangan sikap dalam memaknai modernisasi masih melekat dalam kehidupan generasi muda bangsa ini.



MEMAKNAI MODERNISASI

Dalam kehidupan manusia yang selalu dinamis terhadap perubahan, pemaknaan kehidupan manusia yang selalu dituntut untuk merubah segala bentuk kehidupannya untuk menjadi lebih baik. Apabila yang menjadi motivasi dasar manusia untuk berubah adalah nilai-nilai transendental, maka visi kehidupan manusia akan selalu berkembang dan mempunyai makna.
Bentuk pemaknaan terhadap perubahan zaman saat ini harus lebih cerdas dan bersifat visioner , menurut soejatmoko yang menggolongkan masyarakat menjadi dua pola masyarakat yang berbeda yaitu masyarakat tradisional dan masyarakat modern, menjadi tanggung jawab setiap insan muda bangsa ini. Namun hal yang sering muncul dalam kajian-kajian secara epistemologi adalah membenturkan kedua pola masyarakat tersebut diatas. Kalau boleh kita melihat secara obyektif, bahwa dari kedua pola masyarakat tersebut mempunyai sesuatu yang khas dan sangat melekat pada keduanya. Satu sisi mempunyai sandaran nilai dan satu sisi lagi mempunyai perangkat untuk mendukung terciptanya sebuah kemajuan.
Tesis ini akan berbeda makna- jika pada keduanya terjadi ambivalensi-, maka dalam kehidupan yang tradisional akan melahirkan orang orang fundamentalis dan sifatnya lebih kaku serta tertutup terhadap perubahan, dan pada kehidupan yang modern akan terbentuk orang orang yang arogan, ambisius dan akan rentan terhadap penyimpangan perilaku manusia terhadap kehidupan hingga nilai moralitas terabaikan. Namun akan menjadi lebih progresif dan terarah apabila kedua duanya melakukan akulturasi antar peradaban sehingga menjadi sintesis bagi perkembangan kehidupan manusia.


PENUTUP

Pencarian identitas manusia dalam kehidupannya, menjadikan manusia bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Begitu juga dengan Masyarakat Indonesia sebagi suatu bangsa yang merdeka dan mempunyai cita cita luhur untuk membentuk tatanan dunia baru serta terbebas dari segala macam bentuk penjajahan. Tanggung jawab untuk mewujudkan impian ini berada dalam satu sikap yang dilematis. Kemajuan peradaban yang menjadi tujuan pembentukan identitas nasional dalam masyarakat yang plural merupakan sebuah tantangan. Basis kultural masyarakat Indonesia tidak mempunyai sejarah yang cukup kuat sehingga identitas mayoritas masyarakatnya menjadi sebuah alat pemersatu. Agama Islam dalam hal ini memainkan peran yang dominan untuk terwujudnya identitas bangsa ini. Nilai nilai agama ini telah tertanam dalam semua lapisan masyarakat. Sehinga perwujudan kharakter kebudayaan manusianya akan berpegang pada nilai nilai moralitas.
Seiring perkembangan dunia yang mengarah pada globalisasi dan perubahan peradaban manusia dengan pola pikir yang modern, Bangsa Indonesia sebagai bangsa besar juga tak luput dari agenda dunia ini. Neo liberalisasi menjadi agenda terselubung dari Globalisasi untuk mempengaruhi masyarakat dunia melalui penyebaran ideologi ideologi modern gaya barat telah turut mempengaruhi pola pikir masyarakat bangsa ini. Perubahan gaya dan pola pikir masyarakat adalah menjadi sasaran dari penyebaran ideologi modern tersebut. Hal ini menjadikan kharakter masyarakat Indonesia berubah secara cepat, dan sangat wajar apabila masyarakat Indonesia menjadi begitu konsumeris, hedonis serta terpengaruh oleh budaya materialis. Namun janganlah dilupakan bahwa masyarakat Indonesia juga telah mempunyai landasan ideologi yang cukup mengakar.
Keinginan serta minat bangsa ini untuk mencapai dasar dasar kemajuan dan persamaan derajat dengan bangsa lain, merupakan modal dasar untuk mencapai pembangunan kharakter manusia Indonesia seutuhnya. Namun kegagalan juga sering muncul dalam pencapaian keinginan itu. Dan yang menjadi kegagalan terbesar bangsa ini adalah ketika bangsa ini tidak mampu untuk merealisasikan secara terus menerus nilai ideologis agama yang disertai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menuju perubahan yang lebih baik dengan sikap konsekwen dan tanggung jawab besar pada hidup dalam masyarakat. Ketika kita hanya menitik beratkan pada satu peradaban maka terma yang muncul adalah kemajuan tanpa basis ideologi atau fundamentalis tanpa kemajuan. Dan pilihan untuk menggabungkan kedua model tersebut bukan berarti tidak punya kharakter yang jelas. Penampilan citra diri bangsa ini akan terkait erat dengan gaya dan perilaku masyarakatnya. Dan jika mengingat hal tersebut maka siapa yang akan menampilkan citra bangsa ini yang mempunyai martabat?.